Kisah ini bermula ketika aku salah memilih tempat persinggahanku di tempat yang masih 'asing' bagiku untuk saat ini (saat itu deng). Ketika diriku duduk di ujung belakang sebelah utara ruang kelas. Salah besar aku memilih tempat itu.
Oh, salah. Sori readers. Rupanya bukan dimulai dari situ. Tapi, hari itu hari Ahad. Hari untuk ketiga kalinya aku masuk di sebuah Madarasah Aliyah Negeri Yogyakarta 1 yang telah menerimaku menjadi salah satu finalis (siswi) dari + 220 siswa siswi yang sudah diterima *Bahagia
Nah, selesai kami (anak baru) mendengarkan berpenggal-penggal belah kata yang sangat tidak sedikit ituu . .
ini intinya, AKU BARU SAJA MELIHAT SOSOKNYA UNTUK YANG PERTAMA KALI! Ketika dirinya berdiri didepan barisan kelas XG yang mana barisan itu adalah barisan tempat aku berdiri di shaf 4. Tak disangka. Namun aku belum mengenalinya.
Ia menggiring kami (seperti bebek-bebek -,-) bersama seorang rekannya yang gaya berjilbabnya sangat kukagumi ^_^ Ia (dan rekannya) menerangkan yang (lagi-lagi) panjang lebar gak pake koma, benar-benar canggih (koyo opo wae -,-). Yah maklum, ini pertama kalinya aku merasakan Masa Orientasi Siswa yang sesungguhnya (sungguh-sungguh merepotkan maksudnya -,-)
Daan Aku tak pernah menyangka (Ahad, 11 Juli 2010) hari yang BERSEJARAH. Perdana aku bertemu sosok yang menginspirasi.*Siapa mengira aku akan mengenalinya?
Setelah pertemuanku dengannya yang pertama itu, setidaknya aku telah menaruh dirinya pada posisi orang-orang teristimewa di dalam hatiku \(´▽`)/ *kau istimewa *****kuu
Dan, hampir genap satu tahun aku mengenalinya. Namun seakan memang kita seperti tak pernah kenal. Aku tau, ketidak biasaan tingkahku memang tidak masuk akal. Terlebih memang diriku tak pernah bisa memberikan alasan 'mengapa aku tidak bisa biasa ketika aku berada, melihat atau sedang berbicara dengannya?'
Kupikir, ketika aku mengambil langkah agar dia tak lagi mengenaliku (impossible memang, tapi paling enggak dia tidak merasa pernah bertemu denganku) ini jalan yang terbaik. Aku jutek(kuakui), karena aku sungguh sangat peduli padanya, tak membiarkannya mengenaliku yang sangat ber-kekurangan ini. Aku yakin dia lebih 'dapat' merasa senang tanpa ada aku disampingnya. Aku (seperti) tak mampu
menyayanginya karna aku takut kasih sayangku tak sanggup membuatnya
bahagia (⌣́_⌣̀) Aku gamauk dia sedih karenaku! Maka, kuputuskan untuk tidak berhubungan dengannya (kenal tapi tak kenal)
Sulit memang untuk bersikap jutek, namun lebih sulit lagi bila aku membiarkan dirinya terlalu dekat denganku.
Kadang aku berpikir, Ya Allah, kenapa aku bisa mengenalinya dan menyayanginya? Bukankah nantinya aku akan menjadi seorang yang menyakiti orang yang mengenaliku ini?
Rupanya Allah kasih aku jawaban lain. Dan menyalahi sikapku terhadapnya.
Aku khilaf, caraku malah menyakiti hatinya. Ini jauh dari perkiraanku. Lalu setelah ini, apa yang harus kulakukan?
akan kuubah sikapku ? Memang,Keputusan untuk berubah hanya butuh beberapa saat, namun Perubahannya sulit dilakukan dan membutuhkan waktu. Jikalau Ia bersedia, akan kuperbaiki. Tapi aku butuh waktu, waktu yang tak sedikit.
(wow, aku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Dan aku berusaha menjadikan ini suatu pelajaran PENTING. Tak akan terlupa)
dipersembahkan untuk Tante bayanganku