Ini kali pertamanya aku berkemah selama aku menduduki bangku putih abu-abu. Seru? bisa dibilang begitu, namun tak selamanya semua akan berjalan seperti yang kita katakan. Ya, aku merasakan yang baru ku katakan. Sedikit merasa jengkel, lelah, resah, kesal sampai-sampai tak ragu ku keluarkan air mata. Perkemahan ini memang tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan kesalahan terbesarku, bahwa aku berharap kemah ini seperti kenangan lalu, ketika ku menginjak masa SMP. Tapi sudahlah, aku tetap akan jalani 4 hari 3 malam yang mungkin akan terasa panjang ini. Rabb, bantu aku ..
Siang berganti malam, mentari berganti rembulan. Akhirnya hampir di penghujung acara. Malam terakhir sebelum aku tiba di kotamadya tercintaku. malam ini terasa hambar. Usai menunaikan kewajiban ku sebagai seorang muslimah, aku kembali beranjak ke tenda dan mulai bersiap untuk upacara api unggun.
Sekarang tepat menunjukkan pukul 20.00 WIB di jam handphone ku. Aku dan teman-teman satu sangga sudah bersiap di pinggir lapangan menunggu acara puncak dimulai sesuai dengan jadwal (pukul 20.00 WIB). Namun rupanya jam karet Indonesia kembali diterapkan. Waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB, aku mulai tak tahan menahan kantuk. Akhirnya ku putuskan kembali ke tenda selagi menunggu.
***
Tak tau apa yang terjadi setelah itu. Ini seperti mimpi yang tidak ku mengerti. Tiba-tiba aku mendengar suara perempuan yang tak asing, namun siapa dia? kurasakan sesuatu menyentuh keningku. "DEEG" jantungku berdeguk kencang bukan main. Dan aku mencoba sadarkan diri, sosok bayang-bayang makhluk tinggi kurus muncul di depanku seperti ingin menyergapku hidup-hidup.
Jantungku rupanya tak bisa diajak kompromi. Benar-benar tak bisa dihentikan degukkan kencang ini! Sepertinya sebentar lagi aku siap meledakkan jeritan cemprengku. Sosok itu terus dan terus mendekat. Perlahan perlahan dan ...
"he", ucap makhluk itu. Aku masih melihatnya dalam bayang-bayang. Aku mencoba tutup mulut, hampir saja berteriak. Namun aku pejamkan mataku tak siap melihat sosok makhluk itu yang sebenarnya.
"kakak sakit?", lanjutnya kembali, dengan nada lemah lembut yang tak seperti sebelumnya. Ini benar-benar tolol! bisa-bisanya aku menganggap kakak pramuka seorang hantu. Benar-benar tidak lucu sama sekali.
aku buka mataku secara perlahan. Bukan karena takut lagi, tapi aku terlalu malu untuk melihat siapa yang berbicara padaku.
"kak?", tanyanya memastikanku baik-baik saja. nadanya berbeda dari sebelumnya. Mungkin sudah jengkel menunggu jawabanku yang loadingnya terlalu lama.
"hee", ucapku nyengir. Sangat tak masuk akal.
"kalo kakak sakit ke UKS aja, disini dingin.", katanya kembali lembut. he? Aku kembali menjernihkan otak linglungku. Aku ada dimana? Apa yang ku lakukan? Aku pandangi sekelilingku mengabaikan perkataan kakak itu.
Selang beberapa menit aku hanya diam, sepertinya kakak itu sudah menganggapku setengah waras.
"oh, maaf kak. Aku gak sakit kok", lagi-lagi aku menyengir padanya.
"kalo gak sakit kenapa gak ikut upacara?", ucapnya sedikit berhati-hati. Aku tau dia sudah menganggapku sangat aneh.
"hehee, uda upacara kak?", aku berusaha mencairkan suasana. Tapi mungkin ini pertanyaan yang salah.
"Ya Allah, kamu gak dengar tadi pengumumannya? lah, kenapa tidur-tidur di sini, ayo cepat ke lapangan.", ucapnya sedikit ketus.
"sori kak, gak denger. La temen se-sangga ku juga pada ketiduran semua.", ucapku menunjuk ke arah tenda (Tampang-tampang innocent)
"MASYA ALLAH", kakak itu mulai geram. Dan beranjak mendekati tenda meninggalkanku. Aku sedikit tertawa kecil, lalu berlari menuju lapangan.
Dalam pijakan kaki menuju lapangan, aku bisa bersumpah. Yang barusan itu tidak akan terjadi lagi.





03.13
un unnapple un-unfun


Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar